Ahok Semangat Jalani Pemeriksaan Kasus Korupsi Patra Niaga, Tiba di Kejagung Lebih Cepat dari Jadwal
![]() |
Kejaksaan Agung menelisi dugaan megakorupsi di anak usaha Pertamina, yang diduga telah merugikan negara ratusan triliun rupiah |
JAKARTA - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sangat bersemangat dalam menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Dia dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait dugaan korupsi di Patra Niaga yang merugikan negara ratusan triliun rupiah.
Ahok merupakan mantan Komisaris Utama Pertamina. Pada wawancara di media sebelumnya, dia mengatakan siap buka-bukaan dan memberi semua data yang dimilikinya, untuk membantu Kejagung mengusut kasus ini hingga tuntas, termasuk menelisik aliran dana korupsi itu.
Saking semangatnya menjalani pemeriksaan, Ahok tiba di Kejagung pada pukul 08.30, atau satu setengah jam sebelum pemeriksaan. Ahok pakai batik coklat lengan panjang. Dia membawa sebuah buku coklat.
“Sebetulnya secara struktur kan Subholding, tapi saya sangat senang membantu kejaksaan. Apa yang saya tahu akan saya sampaikan,” ujar Ahok kepada awak media di kawasan Kejaksaan Agung, Jakarta, Kamis (13/3/2025).
Ahok menyatakan akan memberikan setiap informasi yang diketahuinya terkait dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan produk kilang pada PT Pertamina Subholding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018-2023.
Ia menambahkan, akan membantu Kejagung mengungkap persoalan ini. Termasuk, memberikan informasi berupa data atau rekaman yang diperlukan.
"Data yang kami bawa itu data rapat apa saja. Kalau diminta kita kasih. Kan bukan hak saya, hak Pertamina," ucapnya.
Kejagung telah menetapkan sembilan tersangka atas kasus tersebut. Enam orang di antaranya merupakan petinggi dari anak usaha atau subholding Pertamina. Sisanya berasal dari pihak swasta.
Pada kasus megakorupsi ini, kejaksaan belum sampai menelisik ke arah aliran dana, dan juga siapa yang paling bertanggungjawab atas telah terjadinya korupsi besar-besaran ini. Banyak pihak menduga, uang korupsi ratusan triliun lebih banyak mengalir ke pihak luar dari pada yang dinikmati para tersangka.
Post a Comment