Juliana Perempuan Pertama SAD Bergelar Sarjana, Menempuh Jalan Terjal Berliku, Kini Masa Pembuktian Diri
![]() |
Juliana (kanan) bersama Rektor Universitas Muhammadiyah Jambi Hendra Kurniawan SSi MSi (tengah) dan CEO Pundi Sumatra Dewi Yunita (kiri). Foto: Suang Sitanggang |
JAMBI, JAMBICARA - Senyum terlihat merekah di wajah Juliana. Perempuan yang berasal dari kelompok Suku Anak Dalam (SAD) itu sedang menikmati hari bersejarah yang membahagiakan. Ia baru saja dinyatakan sah menyandang gelar Sarjana Kehutanan lewat prosesi wisuda yang digelar Universitas Muhammadiyah Jambi, Senin (23/12/2024).
Wisuda Juliana sesungguhnya bukan hanya bersejarah baginya, tapi juga menjadi sejarah untuk SAD (Orang Rimba). Untuk pertama kali, ada seorang perempuan dari komunitas adat terpencil ini yang bergelar sarjana.
"Saya sangat senang sekali karena sudah lulus kuliah, dan saya berharap ini bisa memberikan contoh yang baik kepada adik-adik saya. Semoga saya juga bisa dapat pekerjaan yang layak," kata Juliana yang terlihat tampil percaya diri ketika diwawancarai awak media.
Perempuan berkulit sawo matang ini menjalani proses yang sulit untuk mencapai gelar Sarjana Kehutanan. Kedua orangtuanya awalnya menentang keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi setelah lulus SMK di Kabupaten Bungo. Demikian juga anggota kelompoknya menyarankan tak lanjut kuliah.
Menurut Juliana, persepsi masyarakat dari kelompoknya, perempuan tidak perlu untuk sekolah tinggi. Anggapan mereka, perempuan pada akhirnya akan kembali ke urusan sumur, dapur, dan kasur. Hanya pria yang bertugas dan bertanggungjawab mencari nafkah dalam tradisi kehidupan kelompok ini.
Samsu, ayah dari Juliana, mengakui sempat menghalangi niat putrinya itu melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Dia merasa akan kesulitan dalam pembiayaan. Selain itu juga khawatir nasib anaknya karena harus tinggal jauh dari keluarga.
"Kalau dia sakit, kami nggak bisa cepat melihatnya. Kalau ada apa-apa dengan kami, Juli ini akan sulit untuk datang cepat. Semua akan butuh biaya," terangnya.
Namun bukan hanya itu saja faktor yang melatarbelakanginya. Kelompok ini tidak punya pengalaman empiris menyekolahkan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi. Orang tua Juliana, Samsu dan Induk Benang, sama-sama tidak pernah sekolah, keduanya buta huruf. Hal yang sama juga dengan anggota kelompok ini yang berusia di atas 40 tahun.
Samsu luluh, mengizinkan anaknya ke Kota Jambi untuk kuliah, setelah dibujuk Dewi Yunita dari Pundi Sumatra, organisasi masyarakat sipil yang concern pendampingan SAD. Dewi memberi gambaran manfaat pendidikan untuk masa depan kelompok itu, termasuk arti penting pendidikan untuk kaum perempuan. Masalah biaya, Samsu dan Induk Benang diminta tidak memusingkannya.
![]() |
Juliana, perempuan pertama Suku Anak Dalam yang meraih gelar sarjana. Foto: Suang Sitanggang |
Juliana mendapatkan beasiswa selama menjalani pendidikan di Universitas Muhammadiyah Jambi program studi kehutanan. "Kami mengemban tugas dan amanah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, juga mengangkat harkat dari martabat kaum yang termarjinalkan," kata Rektor Universitas Muhammadiyah Jambi, Hendra Kurniawan SSi MSi.
Selain beasiswa program sarjana, dia juga mengatakan pihaknya akan memberi beasiswa program magister bila Juliana mau lanjut ke S2. Tak hanya untuk Juliana, lanjut Hendra Kurniawan, pihaknya akan membuka diri memberi beasiswa bagi anak-anak dari kelompok marginal seperti Suku Anak Dalam.
Tantangan Membuktikan Diri
Juliana kini bergelar Sarjana Kehutanan. Namun itu dirasa belum cukup. Perlu adanya hasil nyata yang diperolehnya sebagai seorang sarjana, untuk bisa memacu orang tua di kelompok SAD berjuang menyekolahkan anak-anaknya. Misalnya mendapatkan pekerjaan yang membuatnya bisa berbeda dengan komunitasnya.
Saat ini, ucap Juli, di kelompoknya ada anggapan bahwa sarjana hanya menghabiskan waktu. Dia kerap dibanding-bandingkan dengan anak seusianya yang sudah menikah muda, yang kini memiliki keturunan, dan juga sebidang kebun. Ukurannya selalu soal materi.
Bila tidak mampu menunjukkan seorang yang sudah sarjana akan berbeda dengan yang bukan, bisa membuat menurunnya keinginan anak-anak atau dukungan orang tua. Inilah tantangan yang kini dirasakan Juliana.
"Jadi saya setelah ini akan mencari pekerjaan, berharap mendapatkan yang layak, agar bisa menjadi motivasi dalam kelompok kami, supaya semakin maju," kata Juliana.
Ia tidak pilah-pilih dalam bidang pekerjaan yang akan dilakoninya kelak. Bila dapat pekerjaan yang sesuai bidang ilmunya, ia akan sangat bersyukur. Namun andai tidak selaras dengan gelarnya pendidikannya, baginya itu tidak akan pernah jadi masalah.
Juliana ingin membuktikan dirinya, sebagai perempuan pertama dari SAD yang mendapat gelar sarjana, akan memiliki kemampuan bersaing dalam dunia kerja, sehingga mereka tak lagi dianggap sebelah mata di masa yang akan datang. (*)
Post a Comment